Dialog Kebangsaan :
Pancasila Solusi Indonesia
Bersama KH. Hasyim Muzadi
INDONESIA BUKAN NEGARA ATEIS
DAN BUKAN NEGARA SEKULER
DAN BUKAN NEGARA AGAMA
Orasi ilmiah KH. Hasyim Muzadi yang disampaikan disuatu forum yang membahas tentang PANCASILA SOLUSI INDONESIA.
Ceramah ini diawali KH. Hasyim Muzadi dengan
menceritakan tentang silaturohimnya kemarin dengan Bu Megawati. Dimana Bu
Mega curhat, “Pak Hasyim Pancasila ini sedang dipolemikkan tanggal
kelahirannya, tanggal 1 juni atau 18 agustus? Pak Hasyim mengatakan, “Lha
menurut Ibu bagaimana?”. Bu Mega menjawab,”Ya ndak usah dipolekmikkan, 1 Juni
itu hari kelahirannya sedangkan 18 Agustus itu pembuatan akte kelahirannya”.
(disambut gemuruh tawa dan tepuk tangan para hadirin). Jadi 18 agustus adalah
penetapan konstitusinya. Pak Hasyim pun menambahkan bahwa Pancasila semenjak
kelahirannya hingga sekarang belum terealisasi nilai-nilainya secara utuh baik
secara filosofis dan praktis. Masih terus dalam proses. Nah, dari 17 Agustus
1945 sampai dengan tahun 1949 ada maklumat Wakil Presiden yang melahirkan
Pemilu 1955, yang melahirkan demokrasi liberal yang tidak pas dengan konsep
pancasila kemudian karena terancam perpecahan waktu itu dari tahun 1945-1999.
Maka muncullah dekrit Presiden untuk kembali ke UUD 1945. Yang mukadimahnya
berisi Pancasila. Nah, dari itu Bung Karno mendraff Pancasila
dengan kenyataannya tetapi waktu itu terlalu pendek untuk merealisir Pancasila
yang begitu filosofis begitu humanis, komprehensif dan sifatnya universal.
Namun belakangan malah masuk angin terjadi tarik
menarik maka lahirlah orde baru. Yang ada P4 itu : Pedoman Penghayatan
Pengamalan Pancasila. Tapi sayangnya itu hanya artifisial. Orang-orang hanya
disuruh menghafalkan butir-butit saja. Sehingga ia hanya mengira Pancasila itu
butir-butir seperti telur itu saja. Manggala-manggalanya itu hanya sibuk
membuat kursus-kursus tapi anehnya pada saat reformasi dimana UUD 45 diubah
termasuk menabrak beberapa prinsip-prinsip Pancasila itu yang melopori
manggala-manggala P4 di MPR itu. (disambut tepuk tangan riuh yang kemudian Mbah
Hasyim menyambut dengan,”Yang tepuk tangan ini karena belum mendapatkan di MPR
saja”).
Nah, begitu masuk reformasi ada adagium: tidak ada UUD
yang tidak memerlukan perubahan pada proses zaman. Termasuk Amerika Serikat
sendiri pernah mengamandemen beberapa pasal. Dari declaration of
independent, tetapi perubahan undang-undang dasar yang begitu
mendasar itu harus sesuai dengan kebutuhan ketika itu bukan sesuai selera yang
mengamandemen. Nah, yang ada di Indonesia ini perubahannya sesuai dengan selera
yang mengubah. Sampai 4 kali diubah lagi diubah lagi. Dan sifatnya lebih
reaktif terhadap kondisi rezim sebelumya daripada filosofis bangsa Indonesia.
(Disambut tepuk tangan riuh). Jadi, saya pernah mempertanyakan, reformasi ini
rekonstruksi Indonesia atau revolusi Indonesia atau atau hanya reaksi dari
rezim ke rezim. Sehingga apa yang dirasakan tidak enak pada zaman Pak Harto itu
dibongkari semua sehingga dengan demikian, ketika Petani menyiangi tanaman
padinya, kan ia harus mencabuti rumput-rumputnya bu, supaya padi ini bisa
tumbuh subur. Tapi karena terlalu semangat padinya ini ikut tercabut. Akhirnya
hingga saat ini Republik Indonesia tidak menikmati hasil panen. (Disambut
gemuruh tepuk tangan). Kecuali panen masuk angin itu tadi.
Saya akan membagi pembicaraan saya ini dalam tiga
bagian. Sebab sekarang pancasila kita dibandingkan dengan filsafat negara yang
tidak berpancasila. Kedua, mengapa Pancasila tidak selesai-selesai menjadi
kenyataan sekalipun didiskusikan terus, bahkan sekarang mendiskusikannya pun
sudah mulai malas. Yang ketiga, kira-kira apa yang akan terjadi dibelakang.
Kira-kira saja karena saya ini bukan dukun. Pertama, di Pancasila ini kan ada
Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, Indonesia bukan negara ateis. Bukan negara sekuler.
Dan bukan negara agama. karena kalau negara ateis tidak percaya dengan adanya
Tuhan. Dia anti Tuhan. Aneh juga, sesuatu yang tidak ada kok dianteni. Bukan
pula negara sekuler. Karena membiarkan orang untuk beragama atau tidak
beragama. Tidak pula menjadi negara agama karena teks agama tidak menjadi
konstitusi tapi universalitas nilai-nilai agama yang dikemas dalam konstitusi
nasional itu sebagai payung untuk masyarakat Indonesia. Nah, sekarang mana
contohnya, sekarang kita lihat negara Eropa Timur yang semenjak 70 tahun yang
lalu menyatakan sebagai negara komunis, negara ateis dan agama tidak boleh
hidup. Negara itu berumur 70 tahun. Komunisme di dunia mulai tahun 70 an, dan
ambruk tahun 90 an, oleh Gorbachev. Padahal untuk mendirikan negara yang tidak
bertuhan ini, didalam catatan sejarah menulis bahwa tidak kurang
dari 110 juta orang mati untuk revolusi. Ternyata setelah 70 tahun ambruk. Saya
baru saja ke Moscow, di Sankt-Peterburg. Disana selama satu bulan itu rembulan
hanya tampak satu minggu saja. Oleh karenanya saya ingin mengajak ulama-ulama
Indonesia pergi kesana supaya mereka tahu, bagaimana menghitung rukyahnya
disana. Karena bulannya tidak tampak padahal untuk merukyah itu membutuhkan pengincengan (peneropongan).
Ya, ini hanya untuk memperluas wawasan saja. Tapi tiketnya yang mahal. Tapi
manfaatnya besar, supaya mempunyai wawasan global daripada pemikir-pemikir
agama kita. Nah, saya terus ke Chekoslowakia dan terus ke Hongaria.
Dalam kondisi reformasi negara komunis mulai berubah:
pertama, mulai beragama. Kedua, mempunyai hak pilih. Ketiga, orang berhak untuk
memiliki harta. Disana Kristen adalah nomor satu pemeluknya sedangkan Islam
nomer dua. Sekarang 60.000 Masjid dibuka di Rusia sementara 170.000 Gereja
dibuka. Tapi masyarakat ini masih mikir-mikir: Tuhan ini ada betul atau nggak?
Kan, zaman komunis dulu negara mengatakan: Tuhan itu tidak ada dan tidak boleh
diadakan. Setelah reformasi makanya masyarakat berfikir: ini sebenarnya Tuhan
ada atau tidak ada. Jadi, antara ada dan tidak ada. Artinya apa, ateisme hanya
bisa bertahan 70 tahun saja karena bertentangan dengan jiwa manusia yang paling
dalam.
Sekarang masuk ke Eropa barat, yang menggunakan
sekuler. Yakni: soft ateisme. Disitu antara agama dan negara dipisah. Jadi
tidak boleh ada kebaktian Katolik di Istana, Kabupaten, dan tidak boleh
dekat-dekat dengan konstitusi. Undang-undang adalah undang. Agama adalah agama.
Tidak boleh dicampur adukkan. Dan itu diterima oleh bapak-bapak baik yang di
Vatikan atau yang di Eropa barat. Lantas apa yang terjadi? Di negara-negara
sekuler ini pelan-pelan agama itu dihancurkan oleh sekularisasi. Banyak
norma-norma agama yang dihancurkan oleh undang-undang. Misalnya, kita masuk di
Copenhagen, disitu ada Denmark, Norwegia, Austria, undang-undang perkawinan
disana memperbolehkan nikah sesama jenis. Padahal, tidak ada agama
yang memperbolehkan pernikahan model seperti itu.
Sekarang ke Timur Tengah, masuk negara yang
berdasarkan agama. Kenapa Timur Tengah menjadi negara agama? Pertama, karena
agamanya mono agama. Berbeda dengan di Indonesia ini multi agama. Makanya,
ketika di Timur Tengah konstitusinya berdasarkan Islam mereka menerima karena
semuanya Islam dan selain Islam mereka menolak. Tetapi harus diingat, agama itu
suci dan negara tidak yang suci. Karena negara dibuat oleh orang. Makanya,
pasti ada jarak antara agama yang suci dengan negara sekalipun ia mengklaim
sebagai negara agama. Saya sudah sampai Saudi Arabia, Turki, itu umumnya
mengatakan negara Islam. Namun faktanya ada yang tenang ada yang ribut. Seperti
di Afganistan itu banyak yang saling membunuh. Saya masuk Pakistan, di
Islamabad yang disitu ada suatu tempat ditempati orang sunni dan syiah
sekaligus untuk haul, jadi bergantian. Mereka juga saling bunuh, apakah mereka
saling membunuh itu diajarkan dalam Islam atau dibenarkan dalam Islam?
Tidak! Menuju ke negara Irak ada Saddam Husein, disana ada Sunni,
Syiah, Kurdi juga terjadi saling membunuh padahal berada dalam negara Islam.
Apakah Islam membenarkan saling membunuh itu? Tidak! Wal-hasil, orang Islam
yang tidak paham Islam kemudian menggunakan Islam secara tidak baik sehingga
antara orang dengan Islam ada jaraknya.
Saya pernah disuruh menengahi konflik antara sunni dan
syiah di Timur Tengah, Lebanon. Di forum itu saya menyampaikan: Bapak
yang sunni atau syiah. Kita lahir sunni atau lahir syiah itu setelah
Rosulullah Saw, setelah sahabat disitu baru ada perpecahan sunni dan syiah.
Lho, kalau surga itu hanya ditempati orang-orang sunni saja atau orang-orang
syiah saja, maka Rosulullah Saw yang hidup sebelum era itu tempatnya dimana? Wal-hasil,
bedakanlah antara dogma agama dengan dogma orang terhadap agama.
Nah, Indonesia memakai Pancasila, yang sila pertama
berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, negara ini muti agama ada Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan lain sebagainya maka yang dinaikkan jangan
teks salah satu agama tetapi nilai universal dari seluruh agama dikemas dalam
ideologi negara Republik Indonesia, sedangkan intinya pada Ketuhanan Yang Maha
Ini. Tapi penjabaran Ketuhanan Yang Maha Esa dalam ritual dan aksi tentu
berbeda tapi semua percaya pada Tuhan. Sholat dan ibadah bisa beda tapi keinginan
masyarakat yang plural terhadap kesejahteraan, kedamaian, gemah ripah loh
jinawi adalah sama. Semua agama mempunyai cita-cita yang sama. Maka yang
berbeda tidak usah dipaksa sama tetapi yang sama jangan sekali-kali dibedakan.
(gemuruh tepuk tangan). Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, jadi Indonesia
bukan negara sekuler. Semua agama dilindungi di negara Indonesia. Kalau ada
yang merusak tempat-tempat Ibadah harus diproses hukum. Artinya negara tidak
apatis dengan agama namun negara tidak mengatur sebab agama adalah urusan
peribadatan pribadi, ritual dengan Tuhannya.
Melihat Indonesia ini sebenarnya luar biasa. Lantas,
mengapa kita harus minder menjadi bangsa Indonesia? ini karena kita lama
dijajah belanda sehingga kita melupakan kehebatan kita. Orang Indonesia yang
mukim di Arab, belum sampai dua bulan itu lebih Arab dari orang Arabnya.
(Gemuruh tawa). Memakai pakaian yang menutupi semua tubuhnya kecuali kedua
matanya. Ini kan melanggar HAM. Karena dia bisa melihat kita, sedangkan kita
tidak bisa melihatnya. (Gemuruh tawa). Itu kan budaya Arab bukan syariat.
Karena budaya Arab lebih dulu lahir dari Islam. Begitu pula yang pergi ke
Amerika. Belum sampai dua tahun mukim di Amerika, itu pulang sudah lebih koboi
dari Josh Bush. Gayanya, pikirannya seakan-akan tidak ada yang lebih baik dari
Amerika. itu disebabkan kita minder menjadi bangsa Indonesia. Dan itu melanda
pemikir-pemikir kita, intelektual-intelektual kita, pemimpin-pemimpin kita.
Sehingga konsepsi ke Indonesia ini dicampakkan begitu saja. Jadi Pancasila
bukan negara agama, bukan negara ateis, bukan negara sekuler. Wal-hasil,
Indonesia adalah negara yang bukan-bukan. (Disambut gemuruh tawa yang riuh).
Mengapa yang digunakan bukan teks agamanyanya? Karena
teksnya ini harus berjalan dicivil society bukan pada nation state. Nation
state ini umbrela all , kalau ingin melakukan sendiri silahkan melakukan di
jam`iyah yang disebut dengan civil society. Silahkan di NU, silahkan di
Muhammadiyah, silahkan di PGI
Persatuan Indonesia. Mengapa Persatuan? Karena
Al-Qur`an bilang Persatuan itu kebangsaan. Intenasionalisme itu ta`aruf. Saya
tidak memakai dalil karena tidak semuanya mengerti dalil. Tapi yakinlah karena
saya kyai pasti saya mengerti dalil. (Gemuruh tawa)
Ya ayyuha al-nasu inna kholaqnakum min dhakarin wa
untsa wa ja`alnakum syu`uban wa qobaila lita`arofu inna akromakum `inda llahi
atsqokum inna llaha `aliimun khobirun (QS. Al-Hujuroot [49]: 13).
Hai manusia, sesungguhnya Kami mencipatakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Jadi bangsa dan kabilah itu dibuat dengan identitasnya
sendiri. Internasionalisme itu adalah ta`aruf. Artinya, interdepedensi tetapi
masing-masing mempunyai depedensi sendiri-sendiri dan harus dihargai. Jadi,
hanya negara yang berkebangsaan yang bangkit menjadi negara besar tidak menjadi
negara kuli termasuk Indonesia.
Siapa bilang Amerika itu tidak nasiolisme egois? Lha
wong 2 orang warga negaranya yang hilang di Papua aja ributnya bukan main kok.
Tapi kita yang warga negaranya digantung dimana-mana tenang-tenang saja.
(Gemuruh tepuk tangan). Jadi Persatuan Indonesia bukan anti internasionalisme.
Karena persatuan kebangsaan itu adalah azali secara filosofis.
Kemanusia Yang Adil dan Beradab. Coba perhatikan,
bahwa seluruh agama mulai dari teologi bergeser ke ritual bergeser pada
pengabdian sosial ujungya mesthi kemanusiaan. Agama yang berhasil itu jika
sampai pada kemanusiaan.
Aroaita al-ladzi yukaddibu bi al-dini (QS. Al-Ma`un
[107]: 1)
Ini yang nggak ngerti santai saja ya. (gemuruh tawa).
“Kamu pengen tahu ya, orang yang mendustakan agama?”. Beragama tapi dusta.
Yaitu mereka yang beragama namun tidak sampai pada kemanusiaan. Nah, di
Pancasila ini malah ditambah adil, beradab. Kalau tidak berpakaian masuk
facebook itu beradab apa tidak. Sedangkan, adil inilah maka posisi Indonesia
harus Non Blok. Tidak boleh pro barat, tidak boleh pro timur. Dia harus
menegakkan kebenaran. Maka, Indonesia harus memperkuat yang benar. Bukan
membenarkan yang kuat. Hari ini kita sedang terkesima dengan memperkuat yang
kuat dan kurang memperkuat yang benar. Dan itu bukan hanya salah kita karena
hukum kita masih begitu. Kalau orang korupsi sedikit, gampang tertangkap.
Karena tidak bisa diratakan. Kalau korupsi yang besar sulit tertangkap karena
semuanya kebagian rata, jadinya aman. (Gemuruh tawa dan tepuk tangan). Dulu,
semua bicara century sampai DPR. Ayo buka kasus ini seterang-terangnya akhirnya
kasusnya ditutup segelap-gelapnya. (Gemuruh tawa dan tepuk tangan). Ini yang
tepuk tangan karena belum kebagian aja, coba kalau kebagian.
Nah, kata berikutnya menarik, yakni “Kerakyatan” bukan
keelitan. Kerakyatan yang dipimpin artinya kita ini membutuhkan bimbingan.
Tidak hanya dibiarkan atas nama demokrasi. Yang dipimpin tapi pemimpin ini
dalam hikmat kebijaksanaan itupun masih dalam permusyawaratan dalam perwakilan.
Apa itu hikmah? Saya pernah belajar filsafat, yang
namanya hikmat itu adalah inti dari sebuah fenomena. Jika ada hukum itu
hikmahnya adalah keadilan. Kalau ada hukum belum sampai pada keadilan maka ia
baru sampai teks hukum, informasi hukum, ilmu hukum tapi bukan hikmah hukum.
Hikmahnya ekonomi adalah kesejahteraan yang merata. Nah, ketika ahli ekonomi
Cuma memelaratkan rakyat kemudian menghisap dari bawah ke atas atau atas ke
bawah maka teori ekonominya tidak sampai pada hikmat ekonomi. Hikmatnya politik
adalah penataan kenegaraan dalam sebuah sistem sehingga melahirkan ketertiban
toto tentrem kerto raharjo. Tapi ketika politik ini menjadi politisasi
dipolitisir akhirnya politik artinya ngakali. “saya dipolitiki”, ini berarti
artinya diakali. Wal-hasil, kalau politik itu sampai pada hikmat ia adalah pahlawan.
Dulu, saya ingat ketika masih kecil ada anggota
parlemen datang, semua orang desa mengelu-elukan. Sekarang kalau ada politisi
datang ke desa paling dimintai uang. Ini dua-duanya adalah politisi. Namun ada
politisi yang sudah sampai pada hikmat tapi juga ada politisi yang hanya sampai
sebatas aksi saja. Hikmah itu besar.
Kebijaksanaan, jadi harus bijaksana jangan hanya
semaunya sendiri. Pemimpin harus bertanggung jawab. Jangan lempar batu sembunyi
tangan. Jangan bilang “saya bersih”, biar masyarakat yang bilang bersih. Nah,
antara pemain dan pemimpin itu cuman sedikit saja perbedaannya. Kalau pemimpin
itu memimpin kita semua. Kalau pemain sedang mempermainkan kita semuanya.
Hikmat kebijaksanaan dalam perwakilan. Saya pernah
usul ke Presiden, tapi berhubung saya yang usul ya tidak mendapat respon
apa-apa. “Pak Presiden, Indonesia ini yang pilihan langsung asalnya kan cuman
parlemen, kalau ditambah ya pilihan Presiden saja yang lain-lain itu perwakilan
aja, untuk memasukkan kata-kata “Hikmat Perwakilan”. Coba lihat, sekarang
pilkada dimana-mana akhirnya menyibukkan MK saja. Kata Pak Mahfudz: 67% Pilkada
bermasalah. Dan masalahkanya tidak hanya politik tapi juga ekonomi karena
sedotan dana baik di KPU dan kandidatnya. Belum kalau orang-orang itu tidak mau
milih kalau tidak 50 ribuan. Itu saja kalau dinaiki orang pindah Pak. Ini bukan
pengalaman lo pak. Ada yang nerima sana, nerima sana, nerima sana akhirnya ndak
milih. (Gemuruh tawa dan tepuk tangan). Ini kan sebenarnya kita mengingkari
diri kita sendiri.
Keadilan Sosial. Ini komprehensif. Karena sosial itu
meliputi pendidikan, hukum, perlindungan, ekonomi, luas segala macam. Jadi yang
namanya keadilan sosial adalah keadilan komprehensif. Perkara orang kaya atau
miskin jangan ditentukan adil atau tidak tapi disebabkan kapasitas dia dalam
menjalankan kehidupan. Saya selalu katakan: orang-orang Islam, orang-orang yang
beragama, orang-orang Indonesia sudahlah jangan ragu-ragu terhadap pancasila.
Hari ini kita sudah ragu terhadap pancasila.
Alasannya, ternyata dari hari kehari Pancasila tidak bisa menyelamatkan
Indonesia. Padahal, bukan pancasilanya yang salah tapi pengamalan pancasilanya
yang belum sempurna. Cuma setiap filosofi bangsa tidak bisa selesai dengan
sendirinya tanda diwadahi sistem kenegaraan yang menjamin terselenggaranya
filosofi itu. Lha, yang menjamin terselenggaranya ini UUD. Kurang banyak kasih
undang-undang, lha yang diubah itu yang diperlukan saja jika kondisinya sudah
mendesak. Lha yang dimainin ini hanya tingkat undang-undang bukan UUD.
Sayangnya, dulu P4, Pancasila, UUD 45 yang di P4 kan itu hanya artifisial,
tidak dihayati apalagi dilakukan. Karena yang memberi ceramah dengan yang
diceramahi sama bohongnya. Tapi karena ada dananya, ya ndak papa. Mari kita
bohong bersama-sama. Tiga partai waktu itu PPP, Golkar, PDI itu sebenarnya
bagus, namun karena tidak diberi wewenang maka seperti hanya menjadi legislator
saja. Dan yang mempunyai wewenang pusatnya diatas sehingga terjadilah reformasi
itu.
Disinilah pentingnya belajar sejarah. Negara-negara
besar itu selalu mempelajari sejarah supaya ia mengetahui karakter bangsanya
dan tahu kemana ia akan memimpin bangsanya. Sementara hari ini kita
tidak diajarkan sejarah bangsa atas dasar demokrasi. Dan demokrasi sekarang
sudah menjadi industri, namanya industri demokrasi. Kenapa? Karena ia lahir
ketika rakyat sedang miskin. Sebenarnya kalau rakyat cukup pangan, papan,
sandang, cukup ekonomi, cukup pendidikan, cukup kesehatan, cukup pelindungan
hukum, demokrasi itu akan datang dengan secara natural pelan-pelan. Tetapi
ketika demokrasi datang ketika susah makan maka demokrasi akan ditukar dengan
sembako. Wassalamu`alaikum warohmatullahi wabarokatuhu.
Garuda Pancasila. Akulah pendukungmu. Patriot
proklamasi. Sedia berkorban untukmu. Pancasila dasar negara. Rakyat adil makmur
santosa. Pribadi bangsaku. Ayo maju. Ayo maju. Ayo maju-maju.
Sumber : http://wacanamarzuki.blogspot.co.id/2015/07/kh-hasyim-muzadi-pancasila-solusi.html
0 Response to "Pancasila Solusi Indonesia"